black hole

Stephen Hawking, Teori Black Hole & Alam Semesta

Stephen Hawking merupakan seorang ahli fisika teoritis, kosmologis dan penulis bahasa inggris sekaligus menjabat sebagai direktur penelitian di pusat kosmologi. Beliau memprediksi teoritis bahwa lubang hitam memancarkan radiasi.

Hawking adalah orang pertama yang mengemukakan teori kosmologi yang dijelaskan oleh penyatuan teori relativitas umum dan mekanika kuantum. Pada tahun 2006 Hawking mengajukan pertanyaan terbuka di internet (“Di dunia yang penuh kekacauan politik, sosial dan lingkungan bagaimana ras manusia bisa bertahan 100 tahun lagi?”).

Kehidupan di bumi ini begitu beresiko dari perang nuklir, virus yang direkayasa secara genetis, pemanasan global atau bahaya lain yang belum dipikirkan oleh manusia. Pada dasarnya konfrontasi nuklir atau bencana lingkungan akan melumpuhkan bumi pada titik tertentu dalam 1000 tahun ke depan.

Beliau memperingatkan bahwa kecerdasan artifisial superintelijen bisa menjadi sangat penting dalam mengarahkan nasib manusia. Hawking prihatin dengan munculnya ras manusia super di masa depan yang dapat merancang evolusi untuk diri mereka sendiri.

Ketika konferensi Google pada tahun 2011 Hawking mengatakan bahwa filsafat sudah mati. Dia percaya bahwa para filsuf tidak mengikuti perkembangan modern dalam sains dan para ilmuwan telah menjadi pembawa obor penemuan.

Teori Big Bang

Anda sebagian pasti tahu dengan film yang berjudul “The Theory of Everything” dimana kisah sulit hidup Stephen Hawking muda diperankan oleh Eddie Redmayne. Hawking harus berjuang dalam mengembangkan teori asal muasal kehidupan di alam semesta.

Meskipun dalam keterbatasannya, ia tetap mencetuskan teori big bang bahwa alam semesta dimulai dari sebuah titik kecil yang kemudian berkembang besar. Hawking menyadari bahwa big bang layaknya runtuhan lubang hitam yang terbalik.

teori temuannya ini beliau publikasikan bersama Roger Penrose pada tahun 1970 untuk menunjukan bahwa relativitas umum seperti alam semeta dimulai dari singularitas. Namun ia sadar bahwa lubang hitam tidak akan mengecil melainkan terus membesar.

Teori Gravitasi Kuantum

Merupakan teori yang di dasarkan pada teori relativitas umum yang dikemukakan oleh Albert Einstein. Pada tahun 1959 Hawking mendapat gelar sarjana di University of Oxford untuk menguji ide mengenai gravitasi kuantum.

Teori kuantum digunakan untuk menggambarkan hal kecil yang tidak terlihat, seperti atom dan pertikel beserta komponennya. Sementara relativitas umum digunakan untuk menggambarkan materi pada skala kosmik bintang dan galaksi.

Menurut teori kuantum bahwa ruang angkasa yang diduga kosong sebenarnya jauh dari kekosongan. Hal itu karena semesta tidak bisa halus atau sama sekali kosong pada semua skala, sebaliknya ruang itu hidup dengan aktivitas.

Perbedaan Teori Lama dan Baru

Suatu ketika di tahun 1983 Hawking dan ahli fisika James Hartle mengusulkan suatu teori bernama Hartle Hawking State. Dalam teorinya menjelaskan bahwa sebelum big bang terjadi telah ada alam semesta tapi tidak ada waktu.

Sementar menurut teori baru awal dari alam semesta memang memiliki suatu batasan dan batasan tersebut memberi kesempatan bagi hawking dan hertog untuk menurunkan suatu prediksi yang lebih baik atas struktur alam semesta.

Prediksi mengenai alam semesta pada skala terbesar sangat halus dan terbatas secara keseluruhan. Bukan menjadi suatu struktur yang terpecah-pecah, temuan ini tidak menyangkal adanya multisemesta tapi ia mengurangi ukurannya menjadi lebih kecil.

Hertog berencana untuk menguji hal tersebut dengan gelombang gravitasi yang mungkin tercipta dari inflasi abadi. Gelombang yang dipancarkan memang terlalu besar untuk di deteksi oleh LIGO (Laser Interferometer Space Antena) milik NASA.

Religion dan Atheism

Hawking merupakan seorang ateis dan percaya bahwa alam semesta diatur oleh hukum sains. Ada perbedaan mendasar antara agama yang didasarkan pada otoritas, sains. Kita bebas untuk percaya apa yang ingin kita inginkan dan menurut penjelasan paling sederhana adalah tidak ada Tuhan.

Tidak ada yang menciptakan alam semesta dan tidak ada yang mengarahkan nasib kita. Hal ini mengantarkan pada kesadaran mendalam seperti tidak adanya surga dan tidak ada kehidupan setelah kematian juga.

Hawking pernah berkata sebelum memulai pidatonya, sebelum kita memahami sains, adalah hal wajar untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Tetapi sekarang sains memberi penawaran penjelasan yang lebih meyakinkan.

Kamu bisa memanggil hukum sains dengan sebutan Tuhan akan tetapi itu bukanlah Tuhan secara pribadi yang anda temui dan dapat diajukan pertanyaan.